ARTICLE
Man under the Sheet
09 Sep 13
Juli lalu genap 32 tahun orangtua saya menjalani pernikahan mereka. Tiga dekade lewat dua tahun lamanya. A fantastic number I believe. Tiap tahun angka itu bertambah, tiap tahun pula saya mencoba mencerna rahasia apa yang mereka pakai untuk tetap memertahankan perasaan bernama cinta. Please darling, to open your eyes and find the same person besides you every single day is not an easy thing to do! And to maintain the flame for the rest of your life is another big homework to complete. Mereka hidup layaknya pasangan konvensional lainnya. Rapi, teratur dan bersahaja. Jika teman-teman pria saya mengeluhkan kekhawatiran mereka akan kata “pernikahan”, maka ayah saya mantap berkata, “the best thing I ever did in my life was married to your mother.” Dan adakah jawaban yang lebih baik lagi dari itu?

The Bed Side Story

Masalahnya, tidak semua orang diberkahi anugerah itu. Pria, kebanyakan makhluk super selektif, melebihi kaum perempuan. Wanita bisa membeli dua pasang sepatu Jimmy Choo yang sama model beda warna tanpa berpikir panjang. Sementara laki-laki akan berpikir dua kali untuk mengganti sepatu butut mereka bahkan dengan sepasang Armani Prive limited edition. Now you see the different, dear.

Seorang teman berkata bahwa ia menunggu kesiapan mentalnya untuk menjalani pernikahan. Entah siapa yang memulai, indikasi kesiapan mental ini ditandai dengan penerimaan tulus mereka melihat wajah polos sang perempuan kala pertama kali bangun dari tidur—cetakan bantal pada pipi, rambut kusut, tanpa make up, dan pastinya, tanpa bantuan si pensil alis ajaib! Ketika seorang pria merasa siap secara batin bangun di sisi perempuan yang sama sepanjang hidupnya, maka bisa dibilang ia telah menemukan sosok yang tepat untuk dinikahi.

Pertanda ini sebenarnya tak melulu salah. Tempat tidur sejatinya jadi analogi kebersamaan, untuk pasangan manapun itu. Maka jika pondasi kesiapan mental itu dibangun di atasnya, secara logika sebuah piramida yang terbentuk dari rasa percaya dan elemen nyaman telah berdiri pada lantai paling dasar. Di tempat tidurlah semua hal terkuak polos tanpa sekat. Adalah hal yang wajar apabila kepolosan tanpa tudung ini kemudian diartikan sebagai penerimaan total kepada si pasangan.

It’s all about the money

Terlahir sebagai pria sudah menjadi suatu dilema tersendiri dalam kehidupan seseorang. Itu berarti ada fase tanggung jawab yang harus anda lewati, bahkan melebihi kaum wanita itu sendiri. It’s not a gender thing, okay! Saya rasa sudah tidak jamannya lagi membicarakan kesetaraan di sini. Itu sama saja seperti PETA yang terus mem-ban orang-orang karena mereka menggunakan kulit buaya sebagai fashion item. Please honey, every body knows animals are used only for fashion and plants totally exist for eats…

Kembali ke soal tanggung jawab tadi. Jika secara moril anda telah menyiapkan diri dengan ketebalan mental yang ada, maka materil adalah soal lain yang kini menghadang. Kesiapan mental tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya ketersediaan materi yang memadai. Ini (mungkin) termasuk pekerjaan yang mapan, gaji mencukupi, kendaraan pribadi, serta (paling tidak) kredit rumah yang sudah disetujui oleh bank. Ingat, wanita kini tidak lagi berada di zaman Siti Nurbaya yang bisa hidup hanya bermodalkan cinta. Empat sehat lima sempurna itu tidak bisa dibeli dengan lembaran cinta atau koin asmara. Dan gaun rancangan Marc Jacobs impian pasangan anda itu, tidak akan dapat dikenakan hanya dengan tiga kata ajaib “I love you” saja. Lagi pula pada akhirnya toh Siti Nurbaya menikahi Datuk Maringgi ketimbang Samsyul Bahri. Why? It’s all about the money of course! Datuk Maringgi sanggup memberikan penghidupan yang lebih layak dibandingkan pesaingnya itu. As simple as that!

Selain sebagai mahluk egosentrik, pria ingin dikenal sebagai mahluk yang bertanggung jawab terhadap keluarganya. Tanggung jawab di sini berarti mampu memberikan penghidupan yang layak bagi istri dan anak-anaknya kelak, termasuk makan tiga kali sehari, shopping tiap akhir pekan, membelikan berlian impian, serta berlibur sebulan sekali paling tidak ke Bali, atau Maroko?

Semua tentu membutuhkan effort tinggi dan biaya yang tidak sedikit jumlahnya. Maka sebenarnya tidak ada yang salah jika barometer anda menilai kesiapan menikah justru dari sudut pandang finansial. Pernikahan yang nantinya dijalani dengan menghadirkan 3000 undangan tak dikenal itu pastinya menghabiskan jumlah uang yang banyak. Dan itu bisa jadi menguras semua tabungan yang ada. Percayalah, apa yang anda lakukan itu, selain karena faktor tuntutan mertua dan gengsi, adalah untuk membahagiakan sang pasangan. Ketahuilah bahwa dibalik pernyataan wanita “Nggak papa kok sayang, kita nikah sederhana saja di rumah, ngundang temen-temen deket sama keluarga,” tersembunyi pesan “if you want to marry me, you have to give me some money!”

The Ego & The Magic 30

Fakta menarik yang bisa dilihat adalah kepercayaan para lelaki pada angka 30. Angka itu secara ajaib menyumbangkan banyak keberanian pada pria untuk memulai kehidupan bernama pernikahan bersama sang pasangan. Apa lacur, mereka percaya bahwasanya di usia itu kesiapan mental dan material telah terbangun secara sempurna untuk menghadapi gerbang baru kehidupan. Tak sepenuhnya salah meski tak semuanya patut dibenarkan.

Dua atau tiga dekade lalu menikah di usia 30 masuk kategori ‘bermasalah’ di mata para orang tua. Maka, usia menikah datang pada angka yang relatif muda untuk ukuran saat ini; 18-25 tahun. Lebih dari itu sudah terhitung produk kadaluarsa. Untungnya, pola pikir berubah seiring lajunya zaman. Angka itu merangkak naik ke angka 27, 29, hingga menyentuh nominal 35. Bagi pria, kematangan usia biasanya dibarengi dengan kemapanan dari segi karir dan kemantapan emosi. The older, the better!

Sayangnya, ini tidak terjadi pada wanita. Jam biologis yang terus berdetak tak jarang membuahkan kelabilan emosi dan kekhawatiran tidak dapat menghasilkan keturunan tepat pada waktunya. Harap diingat kita masih tinggal di yang tingkat campur tangan keluarga masih tinggi. Jangan salahkan banyak wanita yang takut dengan cap kampungan perawan tua atau telat nikah. Yang terjadi adalah tidak adanya titik temu antara pemikiran patriarki dan wanita tentang kapan waktu yang tepat untuk menikah. Meski dengan pemikiran modern banyak wanita yang tak lagi mempermasalahkan hal ini, tekanan kanan-kiri bisa jadi sesuatu yang memperburuk keadaan.

Jika ini yang terjadi, berikanlah pengertian pada pasangan anda bahwa kesiapan diri (moril maupun materil) adalah sesuatu yang harus dipertimbangkan secara cermat dan matang. Jalinan asmara yang sudah berjalan 7 tahun lamanya bukanlah jaminan anda akan berakhir bahagia berdua di pelaminan. Paksaan dan tekanan justru akan berimbas pada ketidakbahagiaan. Kritisi bahwa anda berdualah yang menjalani pernikahan ini, maka keputusan terakhir hanya ada di tangan anda dan pasangan.

Awamnya pernikahan menjadi rembukan banyak orang dalam persiapannya. Tetapi ketika hal buruk terjadi pada lembaga pernikahan itu nantinya, tak ada satu pihak pun yang mau turut ambil bagian untuk mengatasi. Jadi belajarlah bertanggung jawab pada pernikahan anda sendiri, apapun nanti hasil akhirnya. Jika 30 menjadi angka keramat anda, maka berikan argumentasi terbaik dan masuk akal yang anda punya kepada pasangan. Harap garis bawahi; argumentasi bukan berarti anda menghindar dari pernikahan itu sendiri.

Hiraukan pula kekhawatiran pasangan anda mengenai waktu yang terus berjalan. Ada benarnya jika ia merasa resah dengan usia yang terus bertambah. In some part, she’s the one who have to carry the baby in her tummy for nine month and ten days! Dan 40 bukanlah umur terbaik untuk melahirkan bayi secara alamiah! Pernikahan adalah sebuah hasil musyawarah-mufakat antara anda dan pasangan. Adalah hal yang bijak jika anda sedikit menekan ego khas pria dan berkompromi demi kebaikan bersama.

The “Click” Moment

Ibarat film, dalam perjalanan cinta, cepat atau lambat sebenarnya anda akan menemukan the click moment. Tak ada yang dapat menggambarkan secara pasti bagaimana momen ini terjadi dan kapan si click ini akan datang di depan mata. Just listen to your heart. Sebagai mahluk dengan kadar sensitifitas di bawah nol derajat, anda harus mawas diri dengan perasaan yang dimiliki.

Jika anda sudah siap secara mental maupun material, dan telah menemukan sosok wanita yang mau menerima anda apa adanya—termasuk kenyataan ciuman pertama anda adalah dengan mantan pacar ketiganya— then my friend… you already have your click moment! Sesederhana itu memang. Tak perlu menunggu angka 30 jika ternyata anda telah merasa siap jauh-jauh hari sebelumnya. Kedewasaan bukanlah melulu diukur dengan usia, tetapi juga sikap anda dalam menghadapi persoalan hidup, termasuk kesiapan memimpin sebuah institusi bernama pernikahan.

Secara sadar, anda juga harus tahu, semakin lama anda menunggu maka semakin lama pula anda mendapatkan kebahagiaan yang dicari selama ini. Life is all about choice. Klise mungkin, tapi memang benar adanya. Latihlah kesadaran diri anda untuk menggapai kebahagiaan itu. Jangan merasa bangga dengan kepasifan yang dimiliki. Ini tahun 2007 bung! Anda tak pernah tahu, terlalu lama menunggu bisa membuat pacar anda membeli sepasang cincin tunangan dan melamar anda malam ini juga! Mereka bisa jadi agresif sekali lho…
RELATED ARTICLES
Inspirations By Preston Bailey For Biyan Bride
22 jul 2014

BEAUTY » Sepasang merak raksasa bertaburkan bunga berdiri dengan megahnya di pintu masuk grand ballroom Dharmawangsa Hotel, Jakarta pada 23 April lalu. Di bawahnya, di mana dari t...

SELENGKAPNYA
Kayumanis Spa At Kayumanis Nusa Dua Private Villa,
22 jul 2014

BEAUTY » Saat gaya hidup kembali ke alam tak lagi menjadi sebuah tren dan codong ke suatu kebutuhan, semua unsur alam kemudian dirasa penting untuk dijadikan pendukung rutinitas. Ji...

SELENGKAPNYA