ARTICLE
RESURRECTION: Story Behind The Desk
24 Oct 16
Sudah dua tahun sejak Witri memegang edisi perdana Le Mariage yang berwarna hijau terang itu. Selain kami, anda, dan para klien yang setia mendukung Le Mariage, Witri termasuk seorang pembaca yang mengikuti perkembangan Le Mariage dua tahun belakangan. Dia juga tahu kenapa hingga ulang tahun ke-2 ini Le Mariage hanya memiliki 23 edisi, bukan 24. Witri juga bisa mengenali dengan baik yang mana tulisan editor, yang mana laporan reporter majalah ini.

Ketika Le Mariage menyisipkan lembar survey pada edisi ke-20 dan 21, Ia ingin sekali ikut serta mengisinya, kalau perlu berkali-kali. Sayang, beberapa kolom tidak dapat diisi, terutama kolom pendapatan yang tidak menggolongkan kisarannya. Akhirnya, di meja Safira, Advertising & Promotion Le Mariage, tidak terdapat nama Witri diantara tumpukan survey yang menggunung.

“saya malu ah, nanti ngisinya apa? Lah wong saya dapetnya aja gratisan”, keluhnya menghadapi isian-isian lembar survey tersebut. Diantara kecakapan pengenalan Le Mariage yang dimiliki Witri, rupanya ia tidak tahu kata ‘free’ di sampul depan berarti juga gratisan, cuma-cuma… alias nggak bayar.

Tidak sengaja ia mendapatkannya diatas meja kerja saya. Kemudian menjadi kegiatan rutin ketika suatu hari ia menagih edisi ke-5 yang tak kunjung terbit. Saya gemrebeg harus menjawab apa. Sejauh yang saya tahu, Witri hanya menyapu, mencuci, dan membersihkan semua kotor di kamar, bukan mengevaluasi apa yang saya kerjakan, terlebih menekuni apa yang dimuat Le Mariage dan menantikannya edisi demi edisi. Sejak saat itu, jangan tanya kenapa, saya selalu membawa pulang satu eksemplar dan menyerahkannya pada Witri. Rutinitas ini ingin sekali saya hentikan ketika ia menjadi kritikus yang cukup tajam, tapi relevan.

Dari, “Mas kok sampulnya kebalik?”, “Kok foto perhiasannya mblawur, ndak terang”, “Nganten laki-lakinya mana?”, sampai yang paling menggetarkan; “Rasanya kok kayak ngimpi, kapan orang biasa bisa begini ya mas?”  

Saya mesti memutar otak mencari-cari alasan dan menerangkannya. Kadang Witri hanya manggut-manggut, lain waktu ia cuma diam saja, tapi belakangan ia kerap menyanggah dengan pelbagai argumen yang, lagi-lagi, kritis dan relevan.

Seperti kesempatan emas untuknya, ketika saya meninggalkan beberapa file di rumah dan meminta Witri mengantarkannya ke kantor, PT. Infiniti Media Kreasi, di Tebet. Mengendarai ojek, jarak Kemang-Tebet dipangkas sampai tinggal 15 menit saja. Dalam waktu sesingkat itu Witri berkesempatan melihat ruang redaksi sekaligus ruang desain sekaligus ruang marketing dan beberapa ruangan lain, termasuk kamar mandi tempat dimana Le Mariage digodok hingga sampai di tangannya setiap bulan.

Ia juga sempat memerhatikan betapa sibuknya Kiki Alexander yang tidak pernah lepas dari gagang telepon, seorang Peggy Mauren yang juga sibuk mengurusi mesin fax, Pandu Buntaran dan Esnoe Metha Wardhani di sebelah kiri saya, Indah Permata Sari di depan layar besar, Sifian Hadi dan Bayu Siswanto yang hilir mudik menciptakan arus berkecepatan aneh di ruang kantor yang terbilang kecil itu, dan saya sendiri sedang repot ngemil ditemani alunan ‘Kelis’.

Rupanya kunjungan singkat itu berakibat cukup signifikan. Ia mulai menuntut. Bahkan menawarkan solusi-solusi, misalnya mencari orang biasa dan menyulapnya seperti pengantin-pengantin yang kerap ada di majalah ini. Dan, yang tidak mungkin terkabul, menyebarkan Le Mariage sampai ke kampung halamannya di Jati Barang, Purwokerto. Maaf kami belum mampu untuk yang satu ini, no offense.   

Rancang tahun 2007 sedang berlangsung saat aneka saran dikumpulkan, didengarkan, dan kalau memungkinkan, diwujudkan. Mungkin hanya kebetulan waktu kami memutuskan untuk menambah satu edisi pria menjadi dua kali di tahun 2007. Yang tidak kalah aneh, ketika Kiki Alexander menyarankan penambahan segmen ‘Before-After’. Artinya, akan ada orang biasa, mungkin  anda, yang kami jadikan bak pengantin dalam satu halaman di majalah ini.

Saya tidak mau mengatakan kalau Le Mariage mengabulkan saran-saran Witri, tapi kenyataannya, kurang-lebih ya begitu. Sayang sekali saat itu Witri tidak sempat bertemu dengan Nicholas Willy Jonathan, Chief Editor Le Mariage atau Ary Tri Prasetyo atau Gunawan Satyono. Mungkin mereka berempat bisa berdiskusi bersama dan menciptakan Le Mariage yang lebih hip, muda, dan segar di tahun 2007. Toh saya tidak perlu ikut memeras otak kalau hal itu terjadi… Happy b’day!

photos by
RELATED ARTICLES
As You Are, Not As You Should Be
22 jul 2014

BEAUTY & SPA » Ada beberapa alasan seseorang mengenakan topeng dalam hidupnya: porphyria cutanea tarda (sensitif terhadap cahaya), pemain Kabuki, koruptor, dan Tukul Arwana—he shoul...

SELENGKAPNYA
Beauty Duty: You Want To Look Good, Really Good
22 jul 2014

BEAUTY & SPA » Untuk pernikahan, penampilan adalah sebuah tanggung jawab yang sangat besar—siapa yang tidak setuju dengan ini? Seorang pengantin adalah pusat perhatian dan tidak ada...

SELENGKAPNYA