ARTICLE
Kacunduk Ring Internet: Anak Agung Wahyu Prayasa & Agung Ratna Dewi
27 Oct 20
Duapuluh tahun lalu mungkin banyak yang menyangkal kehadiran cinta tanpa melibatkan pertemuan sebelumnya, apalagi Internet. Dunia maya yang satu ini memungkinkan dua atau lebih pseudo identitas terjadi. Kepercayaan adalah hal paling mengerikan di dunia maya. Tidak untuk Anak Agung Wahyu Prayasa (Papo) dan Agung Ratna Dewi (Aggiechan). Mereka bisa saling percaya dan memahami satu sama lain meski total pertemuan secara fisik mereka berdua hanya berlangsung 20 hari.

Aggiechan di Jakarta dan Papo di Bali dengan jaringan komunitas maya yang didirikannya sebagai ajang berkumpul anak-anak muda Bali mempertemukannya. Kesibukan mereka yang berbeda letak geografis memaksakan suatu budaya baru dalam menjalin asmara. Bagi mereka berdua inilah kesulitan masa-masa berpacaran. “Karena saya saat itu masih pendidikan di Jakarta, sedangkan suami bekerja di Denpasar. Kesulitannya tidak bisa bertemu secara fisik. Komunikasi terpaksa dilakukan lewat telepon selular, chatting, e-mail dan tagboard iloveblue.com. Memerlukan pengorbanan dan rasa percaya yang amat besar untuk menjalani hubungan jarak jauh.” Ungkap Aggiechan.

Selama masa 5 bulan berpacaran itulah mereka mengkhususkan diri berkomunikasi lewat internet. Seperti yang mereka akui ada suatu pengorbanan yang besar untuk membangun saling kepercayaan antara satu dan lainnya. Mungkin pengorbanan yang cukup besar inilah yang patut ditiru di abad ini ketika sebuah dunia baru lahir dan membudaya. Budaya baru yang merasuk dan menginfluensi semua orang hingga sampai urusan cinta sekalipun.

Papo mengenang betapa manisnya foto-foto yang ia nantikan setiapharinya. Terlebih ketika akhirnya mereka bertemu di Bali untuk pertamakalinya, bagi Papo, ia hampir tidak percaya akan peristiwa itu. “Ada permintaan khusus, bahwa saya harus mengirimkan e-mail berisi foto liputan keseharian saya kalau bisa setiap hari. Dan yang paling istimewa adalah morning call setiap hari, setiap jam 4.30 pagi dari pasangan yang membangunkan saya, sampai di kampus sekitar jam 6.00 pagi HP berdering kembali dan pembicaraan baru terputus saat kuliah pagi atau kegiatan di rumah sakit sudah berjalan. Saat istirahat makan siang, saat sepi tidak ada dosen, saat tiba dirumah, dimana pun, saat ada waktu luang pasangan pasti menyempatkan diri menelpon.”

Sekitar dua bulan perancangan penrikahan hingga akhirnya mereka bersanding di pelaminan. Satu ciri lagi dalam dunia pernikahan abad-21 di Indonesia. Meski keduanya bertemu lewat dunia maya, mereka tetap melangsungkan ketentuan-ketentuan adat Bali yang dipercaya ribuan tahun dan diturunkan lewat generasi ke generasi. “Untuk upacara secara adat, kami berpedoman dengan adat yang berlaku di daerah kami tentunya.”  

Tentang upacara adat yang mereka lakukan, Papo bercerita: “Dari sisi upacara ritual tentunya tidak menjadi masalah yang besar karena merupakan budaya turun-temurun dan sudah biasa dilakukan. Di Bali, ada beberapa tingkat upacara perkawinan adat Bali yang disesuaikan dengan kondisi keluarga penganten. Dan di setiap daerah memiliki adat atau budaya yang berbeda. Point terpentingnya adalah memadukan dua adat setempat plus keinginan dua keluarga penganten. Menurut saya, proses lamaran secara adat adalah acara yang menjadi tolak ukur. Karena merupakan awal pertemuan keluarga besar dan saat ini dibicarakan rentetan upacara selanjutnya. Dan ini kadang kala menjadi masalah jika salah satu keluarga memaksakan keinginannya.”

“Kami memasukkan semua unsur adat pada perkawinan kami yang disesuaikan dengan kondisi keluarga dan jaman tentunya. Suatu hal yang kami kedepankan adalah lebih memaknai upacara ini. Dan saat perkawinan kami ada satu hal yang cukup menarik, yaitu pemberian dan pengesahan akte perkawinan yang dihadiri oleh petugas catatan sipil kodya Denpasar. Hal ini pertama kali dilakukan di daerah kami di desa adat Padangsambian dan mungkin jarang dilakukan juga di Bali yang biasanya akte perkawinan diurus setelah upacara perkawinan secara adat. Kemudian pemberian booklet pernikahan kami saat upacara pernikahan dilangsungkan yang isinya mengenai urutan upacara dan makna yang terkandung di dalamnya.”

Upacara adat Bali sendiri secara garis besar berisikan upacara penyucian, upacara agama yang disebut Mekala-kalaan (natab banten), biasanya dipuput oleh seorang pinandita. Upacara ini dilaksanakan di halaman rumah (tengah natah) karena merupakan titik sentral kekuatan Kala Bhucari sebagai penguasa wilayah madyaning mandala perumahan. Setelah upacara mekala-kalaan selesai dilanjutkan dengan cara membersihkan diri (mandi) yang disebut dengan angelus wimoha yang berarti melaksanakan perubahan nyomia kekuatan asuri sampad menjadi daiwi sampad atau nyomia bhuta kala Nareswari agar menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih agar harapan dari perkawinan ini bisa lahir anak yang suputra. Setelah mandi pengantin dihias busana agung karena akan natab di bale yang berarti bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Selanjutnya pada hari baik akan dilaksanakan upacara Widhi Widana (aturan serta bersyukur kepada Hyang Widhi). Terakhir, ditutup lewat upacara pepamitan ke rumah mempelai wanita.

Bagi Papo dan Aggiechan, pernikahan mereka berarti pula Hak untuk mendapatkan kebahagiaan sebagai suami-istri dan orang tua dari anak-anak nantinya. Dan siap mengemban kewajiban sebagai seorang ayah dan ibu serta menjalani tanggung jawab keluarga. Dan doa mulia mereka berdua:

“Asturi no garha prtyan santu”
(Semoga hubungan suami istri kami berlangsung abadi reg.VI.15.19)

photos courtesy of AA. Wahyu Prayasa
RELATED ARTICLES
Liability Of Love: Teuku Adifitrian & Arti Indira
22 jul 2014

COUPLE STORY » dr. Teuku Adifitrian (Tompi), penyanyi jazz bersuara khas ini menggelar pernikahannya dengan dr. Arti Indira tanpa gebyar gegap gempita seperti kebanyakan public figure lai...

SELENGKAPNYA
The Transformation Of Me Into Us: Pascal Lasmana & Sisilia Oei
22 jul 2014

COUPLE STORY » Ada peleburan dua sisi yang berbeda dalam pernikahan, kompromi dalam menjalani hari, dan tentunya pengorbanan sebagai implementasi cinta itu sendiri. Paling tidak, itulah y...

SELENGKAPNYA