ARTICLE
The Pursuit of Happiness
28 Dec 17
Menapaki kehidupan cinta Andrew Hosea Senduk dan Melissa Peh Ting Huang sejatinya tak berbeda jauh seperti menonton sebuah film romansa garapan Hollywood. Semuanya ada di sana. Mulai dari awal perjumpaan yang sangat klasik “We met each other during a drink with mutual friends. I was introduced to Melissa and immediately seat next to her,” hingga proses proposal yang menjadi impian hampir sebagian besar wanita di belahan dunia manapun.

Perjumpaan itu pada akhirnya membawa mereka ke tangga hubungan di level yang lebih tinggi. Siapa nyana, enam tahun kemudian, Andrew yang punya darah Malaysia dan selalu berkutat dengan angka serta Melissa yang keturunan Taiwan dan lebih sering mendesain itu masih tetap bersama dalam sebuah hubungan yang didasari cinta. Perbedaan toh nyatanya tak selalu berimbas negatif. “The fact that Andrew and myself are two totally different persons and therefore react totally different at situations. This is difficult but at the same time this makes us strong!” Apa jadinya jika dunia ini hanya terdiri dari satu lapisan warna saja?

Keadaan kemudian memaksa mereka berpisah untuk sementara waktu. Perpisahan itu pulalah yang akhirnya menguatkan pondasi cinta dalam hubungan mereka berdua.

‘We both went away for a couple months during our relationship. I went to study for 6 months in South Africa, and Mel did her internship in Bali for 6 months. This definitely had a very positive impact on our relationship.” Sang perempuan bahkan yakin bahwa inilah resep ampuh bagi banyak pasangan untuk menguji kadar keseriusan sebuah hubungan. “Andrew’s stay in South Africa and my stay in Bali have had a huge impact on our relationship. A very positive! I recommend everybody to do this, testing your relationship to the max, haha”.

Tempo yang bergerak lambat pada waktunya akan menjawab pertanyaan besar dalam sebuah hubungan. Dan Andrew dengan berani menjawab, “That our being together is meant to be…”. Namun tentu segala sesuatunya tak selalu berjalan relevan dalam kehidupan nyata. Selalu ada ihwal yang ikut serta di dalamnya. Maka diperlukan sebuah titik temu dan kompromisasi untuk  menjembatani dua kepentingan individu tersebut. Dan Melissa lalu menerjemahkannya dalam satu kalimat sederhana; “More patience for each other and accepting your partner for whom he/she is.”

Enam tahun lalu dirasa cukup bagi Andrew ketika menuntaskan niatannya melamar sang gadis pujaan. Jimbaran, Bali dipilihnya untuk membantu mengucapkan the magic word itu.

“At the end of Mel’s internship in Bali, I picked her up. One night we went to Jimbaran, and after a very good diner we walked along the beach. At one moment I dropped on one knew and proposed, the rest is history”…Siapa bilang anda hanya dapat menyaksikan ini dalam sebuah film?

Enam hingga sembilan bulan kemudian, masa-masa menegangkan dalam mempersiapkan pernikahan dimulai. Hebatnya, sebagian besar perencanaan justru dilakukan di Belanda, tempat di mana keduanya bermukim. “The fact that we had to arrange everything from the Netherlands made it very difficult. We never actually visited the wedding venue or tasted the food. Fortunately we had good friends that live in Bali and helped us with our choice”.

Selain televisi, majalah dan internet yang memberikan inspirasi, Bali Exotic Wedding adalah yang membantu mereka mewujudkan pernikahan impian yang digelar di Villa Matis, Bali. “We choose for a relaxed theme, breezy summer, because we wanted to have a very relaxed and non formal wedding like a lot of Jakarta weddings”.

Tanggal 21 April 2007– tepat enam tahun keduanya menjalin hubungan– dipilih sebagai tanggal sakral pernikahan. Andrew mengingat momen itu seperti kilasan sebuah film klasik. “The moment Mel walked “down the isle” I got very emotional, because she looked amazing and I realized how blessed I am”…Sementara untuk Melissa sendiri, “Exchanging the vows was a very special moment. Also the speeches of our friends and family were very special.”

Kehidupan baru kini mereka lalui, yang tentunya tak bisa disamakan dengan dramatika sebuah film romantis komedi. Perubahan terbesarnya? “The biggest change is that we just bought an apartment in Amsterdam. We now life together and it’s awesome!”

Selebihnya, tak ada yang berganti. Pernikahan telah membawa mereka ke satu sudut istimewa dalam kehidupan. Andrew menganggapnya sebagai, “Accepting each other for who they are and choosing to be together for ever…”. Sementara untuk Melissa, “the meaning of marriage is a promise to each other and to God that we will love and carry for each other in good and bad times.” This, my dear friend, is something you can’t find in any kind of movie.
RELATED ARTICLES
Liability Of Love: Teuku Adifitrian & Arti Indira
22 jul 2014

COUPLE STORY » dr. Teuku Adifitrian (Tompi), penyanyi jazz bersuara khas ini menggelar pernikahannya dengan dr. Arti Indira tanpa gebyar gegap gempita seperti kebanyakan public figure lai...

SELENGKAPNYA
Kacunduk Ring Internet: Anak Agung Wahyu Prayasa & Agung Ratna Dewi
22 jul 2014

COUPLE STORY » Duapuluh tahun lalu mungkin banyak yang menyangkal kehadiran cinta tanpa melibatkan pertemuan sebelumnya, apalagi Internet. Dunia maya yang satu ini memungkinkan dua atau l...

SELENGKAPNYA
The Transformation Of Me Into Us: Pascal Lasmana & Sisilia Oei
22 jul 2014

COUPLE STORY » Ada peleburan dua sisi yang berbeda dalam pernikahan, kompromi dalam menjalani hari, dan tentunya pengorbanan sebagai implementasi cinta itu sendiri. Paling tidak, itulah y...

SELENGKAPNYA