ARTICLE
Bridal Revolutionary; Stunning and Manifestly Radical
28 Dec 17
“Married in white, you will have chosen all right. Married in grey, you will go far away. Married in black, you will wish yourself back…”

Penggalan puisi klasik di atas sengaja saya kutip dari sebuah situs internet yang membahas masalah pernikahan, tanpa bermaksud menakuti anda dengan analogi pewarnaan yang tersebut. Kontradiksi justru kunci yang ingin saya angkat di sini. Mari berkilas balik ke belakang ketika Le Mariage pernah membahas gaun-gaun klasik di zaman baroque dan renaissance dalam artikel Adolescent Vintage (edisi 9/2005). Victorian Drapery, Edwardian Sleek, Circa Frills dan Sheers Sleeves adalah empat model gaun pengantin klasik yang masih digemari hingga saat ini.

Sekarang saya akan ajak anda ke tahun 2007, dan duduk manis di pagelaran busana pengantin spring/summer dan fall/winter koleksi rumah-rumah mode dunia di Milan, Paris dan New York. Yes, I know dear, they are simple-seemingly-awkward collections, but please admitted they are really inspiring! Yang paling mencengangkan, ramalan para oracle dunia mode ini jauh dari kata putih, meski beberapa masih ada yang bermain aman pada warna off white. The wedding gown immediately transform into Not-so-White colors with rugged-slouch-geometrical cuts. And yet, you can find black in the list. Siapa bilang anda perlu menjadi pesulap seperti Deddy Corbuzier untuk bisa menikah dengan warna hitam? You can also do it! Forget about the old classic poem. Please, the one who made it never met Galiano before.

BROKE THE WHITE
Ketika menikahi Albert of Saxe di tahun 1840, Ratu Inggris Victoria tercatat sebagai yang pertama memopulerkan putih sebagai warna untuk gaun pernikahan. Hey, perhaps she is still virgin at that time! Padahal, kala itu putih termasuk warna yang dimarjinalkan untuk hari pernikahan. Kebanyakan orang justru menikah dengan warna yang cenderung gelap. Bahkan beberapa memilih jalan praktis dengan membeli busana pengantin yang dapat dikenakan untuk dua-tiga acara berbeda.

Lalu muncul anggapan putih sebagai lambang kesucian atau virginitas seorang calon mempelai wanita. Maka yang terjadi di kemudian hari adalah warna yang marjinal tadi perlahan tapi pasti menjadi favorit banyak wanita untuk dikenakan pada hari pernikahan mereka, either they’re really virgin or not. Tapi, toh keperawanan di tahun 2007 ini sama tuanya dengan Cher.

Warna apapun yang akhirnya menjadi pilihan anda, secara harfiah tidaklah kemudian mewakili kondisi anda yang sebenarnya. Mitoslah yang memberi sumbangsih pengertian itu. Beranikan diri untuk mencoba sesuatu yang berbeda dari yang sudah ada. Anda patut bangga jika menjadi satu-satunya orang yang menikah dengan warna merah dalam keluarga. Paling tidak anda tak mengekor di belakang kakak-adik yang hanya berani menyentuh garis putih. It’s a trend anyway!  
        
SPARKLING AIR
Nafas segar jelas terasa ketika menyaksikan pagelaran busana perancang kaliber dunia beberapa waktu lalu. Yang paling pertama patut diacungi jempol tentu Jean Paul Gaultier. Ia dengan jenius menabrak tembok pembatas yang selama ini memagari kreatifitas dalam penciptaan busana pengantin. Tanpa ragu, ia keluar dari kubangan putih dan menciptakan busana houte couture dengan keanggunan tersendiri. Gaultier terlihat bermain dengan citra Guadalupe (Virgin Mary) dalam kehidupan masyarakat Meksiko. Hiasan kepala pengantin yang biasanya hanya ditampilkan dengan crown mungil dan ditambahi veil, kali ini disulapnya menjadi mahkota yang hampir mendominasi kepala. Sementara pemakaian warna dan material pun cenderung beragam dengan suguhan warna kuning, biru dan abu-abu dalam lambaian bahan satin, tulle, sampai organza.  And look at those cuts. No other word can describe it except; C’est genial!!!

Christian Lacroix juga melenggang apik dengan busana yang terinspirasi dari gaun Sheers Sleeves yang pernah populer di tahun 50-an. Lengan balon yang dipadukan coat lebar dan melambai tampil anggun dalam balutan warna gold-dusted menggunakan bahan lace dan motif sulaman pada bagian peplum. Graceful in its own way! Di bagian lain, Billy Tjong membernaikan diri dengan memotong gaun sependek mungkin dan membiarkan veil menjulur dengan panjanganya.
 
THINK BLACK
Tak banyak desainer yang berani menginjakkan kaki di ranah hitam ketika merancang sebuah busana pengantin. Bisa jadi ini didasari oleh ide besar hitam yang cenderung gelap dan suram. Selain John Galiano, Givenchy nyata-nyata berhasil mengolahnya dengan cerdas dan menampilkan hitam serta gradasi warna abu-abu bersama garis rancangan yang tegas dan geometris. Material organza yang digunakan dengan telak berhasil menyumbangkan volume dan cutting yang sangat futuristik pada tiap desainnya, dan berimbas pada keanggunan kelas tinggi bagi si pemakai. Just fantastic!
Harus diakui, mengenakan busana pengantin yang beringsut jauh dari warna putih seperti ini memang memerlukan kepercayaan diri yang tidak sedikit. Namun kunci yang harus dipegang di sini adalah jangan pedulikan apapun yang dikatakan orang mengenai penampilan anda. This is your wedding! Selain pasangan, sebenarnya tak ada orang yang berhak menentukan apakah anda harus menggunakan gaun tafeta putih yang membosankan itu atau tidak. Keanggunan tak melulu harus dipancarkan lewat warna putih. Perancang Indonesia seperti Biyan juga mulai melirik warna-warna subdued bernada tanah untuk koleksi gaun pengantin terbarunya. Pada akhirnya, faktor itu justru datang dari kesiapan internal dalam menjalani kehidupan pernikahan itu sendiri.

BRING OUT THE DETAIL
Tahun ini detail bunga tak lagi terletak di bawah gaun atau tersembunyi malu di belakang garis pinggang seperti biasanya. Tak hanya Lacroix saja yang menyematkan bunga besar-besar di seluruh tubuh gaun, Chado Ralph Rucci pun menambahkan beberapa kuntum bunga sebagai pattern. Sementara Armani Prive seperti biasa bermain seksi di kelasnya. Sutera dan satin rupanya menjadi primadona untuk koleksi busananya kali ini yang sangat ketat membungkus tubuh dan membentuk siluet badan. Model tube dress yang lebih menyerupai gaun malam dengan warna-warna pastel sepertinya lebih cocok untuk anda yang tak terlalu berani keluar jalur aman. Oh well, paling tidak anda tak lagi mengenakan gaun bervolume ekstra itu lagi. 

ANXIOUS BRIDE
Musim ini frills sepertinya diagungkan sekali oleh John Galliano lewat Dior yang terinspirasi oleh rancangan klasik Circa Frills dan Victorian Drapery yang pernah menjadi primadona di tahun 30-an. Gaya tumpuk yang disuguhkan secara dramatis memberikan kesan dekoratif yang futuristik sekaligus orientalis pada busana. Pengolahan cutting asimetris yang berani memberikan efek kemewahan tak bisa ditandingi oleh gaun pengantin konvensional. Sementara Ann de Meleuiester memberikan pilihan busana yang tegas dan berwibawa lewat rancangannya yang mengangkat gaya French soldier. Juga siluet yang sama sekali baru dari Bruce, Anne Klein, Derek Lam, dan Yohji Yamamoto membuat mantra baru terhadap dunia pernikahan: Get your bodied!

THE CONSERVATIVES
And for you the conservatives, no need to worry. Beberapa perancang sepertinya mengerti akan ‘ketakutan’ anda menyebrangi arus deras tren busana pengantin tahun ini. Mereka berbaik hati menciptakan beberapa rancangan dengan potongan yang sedikit lebih bersahabat. Valentino dan Vera Wang adalah dua nama besar di balik ide itu. Keyword-nya tak lain adalah body cut dan off-white. Now, please put your ball gown that looks like my 3 years nephew’s birthday cake in to the trash bin! It’s time to show’ umm your six months deathly diet result. Deretan busana koleksi Carolina Herera, Chanel, Rodarte dan Ellie Saab juga cenderung lebih membumi tanpa meninggalkan kesan extraordinaire-nya. Password-nya? Sexy curve body line!

THE SPIRIT
Tahun ini, potongan busana yang stunning dan vokal memang dengan sengaja dirancang oleh para dewa dunia mode. Tujuannya tak lain adalah berlari dari kejenuhan. Namun secara sadar, apapun yang mereka ciptakan tak akan membantu banyak tanpa kepercayaan diri anda sebagai si pemakai. Mempelai wanita sesungguhnya adalah roh dan perwujudan yang dapat menghidupkan keanggunan sebuah gaun pengantin. Tanpa anda yang memancarkan aura tersebut, gaun pengantin sebenarnya tak lebih dari onggokan bahan tak bertuan. Dan tugas andalah untuk mengejawantahkannya.

Foto koleksi 2007: Anne Klein, Ann de Meleuiester, Christian Lacroix, Armani Prive, Bruce, Jean Paul Gautier, Chanel, Derek Lam, Ellie Saab, Christian Dior, Carolina Herera, Chado Ralph Rucci, John Galiano, Givenchy, Vera Wang, Valentino, Rodarte.
RELATED ARTICLES
Resurrection: Story Behind The Desk
22 jul 2014

BEAUTY & SPA » Sudah dua tahun sejak Witri memegang edisi perdana Le Mariage yang berwarna hijau terang itu. Selain kami, anda, dan para klien yang setia mendukung Le Mariage, Witri terma...

SELENGKAPNYA
As You Are, Not As You Should Be
22 jul 2014

BEAUTY & SPA » Ada beberapa alasan seseorang mengenakan topeng dalam hidupnya: porphyria cutanea tarda (sensitif terhadap cahaya), pemain Kabuki, koruptor, dan Tukul Arwana—he shoul...

SELENGKAPNYA
Beauty Duty: You Want To Look Good, Really Good
22 jul 2014

BEAUTY & SPA » Untuk <span style="\&quot;font-weight:" bold;\"="">pernikahan, penampilan adalah sebuah tanggung jawab yang sangat besar—siapa yang...

SELENGKAPNYA