POST TITLE
post subtitle
Back to Lemariage
  • Logo Lemariage
  • Logo Lemariage
The Show : Harmoni Bumi | Le Mariage Indonesia

The Show : Harmoni Bumi | Le Mariage Indonesia

NEWS

The Show : Harmoni Bumi

by GS 05 Mar 2020


Sejak tahun lalu karya busana yang menginspirasi kepedulian terhadap  alam, lingkungan, dan human diembuskan empat perancang mode Ariy Arka, Ayu Dyah Andari, Chintami Atmanagara, dan Yulia Fandy, penggagas Fashion Rhapsody. Dengan mempresentasikan karya yang mewakili kepedulian mereka dalam pre - event dan softlaunching, serta mengajak desainer lain untuk ikut ambil bagian dalam acara besar yang bertajuk : Harmoni Bumi.

Acara yang telah diadakan sebanyak dua kali, diselenggarakan sejak 26 Februari 2020 hingga 29 Februari 2020 di The Tribrata, Jakarta, dan diresmikan oleh Direktur Jenderal lndustri Kecil Menengah dan Aneka, Gati Wibawaningsih. Harmoni Bumi juga menampung lebih dari seribu set busana hasil karya berbagai perancang busana yang memiliki visi dan misi yang sejalan dengan keempat founders Fashion Rhapsody.

Ketika memasuki area perhelatan, suasana alami mulai terasa. Terdapat gerai-gerai pameran dengan gagasan yang peduli akan lingkungan. Lewat gerai-gerai pameran, mereka turut mengedukasi masyarakat untuk peduli lingkungan dan kemanusiaan ini, misalnya, untuk menukarkan kantong yang dibawa dengan kantong ramah lingkungan yang terbuat dari singkong.

Ada gerai yang menawarkan produk busana dari bahan daur ulang. Untuk keperluan menjalankan bisnis, panitia menyediakan ruang khusus untuk melakukan transaksi bagi para calon pembeli dan penjual. Di area utama, terdapat panggung peragaan mode, di mana mata penonton akan dimanjakan dengan koleksi busana yang memukau, dan setiap hari memiliki tema harian yang diadaptasi dari alam ; Savana, Silk Lagoon, Secret Forest dan Wysteria. Setiap desainer yang turut serta mengikuti daily runway theme yang telah ditetapkan namun bebas menginterpretasikan tema ke dalam karya mereka masing-masing.

Tema Savana diangkat untuk mengumpamakan wilayah datar terbuka yang didominasi oleh padang rumput. Karya yang ditampilkan merepresentasikan awal-awal ketika tanah masih kosong belum ditanami apapun. Sedangkan Silk Lagoon diibaratkan sebagai ketika padang rumput mulai ditumbuhi dengan berbagai tanaman. Segalanya bertumbuh dengan cepat. Keragaman karya merepresentasikan padang rumput yang mulai dihuni tetumbuhan, dan mahluk hidup.

Tema Secret Forest merupakan penerjemahan yang menggambarkan saat bumi mulai kelelahan dengan eksploitasi dan campur tangan manusia yang cenderung merusak dan mengakibatkan semakin sedikit lahan hidup yang tersisa. Sedangkan tema Wysteria diambil untuk menceritakan tentang keadaan alam yang mulai bersemi kembali setelah manusia berhasil melewati masa kelam dan sulit.

Hidup baru mulai kembali. Tunas tumbuh memberi harapan baru.

“ Kami mengambil tema ini untuk menyadarkan diri kita send iri bahwa kita perlu berbuat sesuatu untuk menunjukkan kepedulian agar alam menjadi lestari . Mulai dari diri sendiri dahulu, meskipun dari hal yang paling sederhana sekalipun. Misalnya mengurangi pemakaian plastik . Untuk desainer mode , sebagai penyumbang limbah bahan paling banyak , tentu perlu dipikirkan untuk mengubah limbah menjadi benda berharga”,  ujar salah satu perancang busana yang juga founder Fashion Rhapsody, Yulia Fandy, yang disetujui oleh ketiga founders lainnya.


Photo : Tim Muara Bagdja

RELATED NEWS